Kamis, 18 April 2013

Efek Teknologi Garis Gawang dan Implementasinya



TEKNOLOGI GARIS GAWANG


BAB I

Pendahuluan


                Sepakbola merupakan olahraga favorit nomor 1 di dunia. Semua elemen, baik pria dan wanita, tua dan muda semua sangat antusias  menyaksikan pertandingan sepakbola.  Mulai dari Piala Dunia, Piala Eropa, Piala Amerika, Liga Champions, Liga Eropa, Liga Inggris, bahkan hingga pertandingan antar kampung tidak pernah sepi dari penikmat sepakbola.
                Akan tetapi kericuhan juga sering terjadi dalam pertandingan sepakbola, antara lain keputusan wasit yang dirasa berpihak sebelah, ketidak puasan akan hasil akhir dari tim favorit mereka, dan lain lain. dan salah satu keputusan wasit yang dianggap sangat fatal adalah gol yang dianulir oleh wasit, yang terjadi oleh perhatian wasit yang tidak bagus, atau jarak bola dari garis yang sangat dekat hingga hampir mustahil untuk menentukan apakah gol tersebut sah atau tidak.
                Oleh karena itu, muncul lah solusi yang dianggap dapat memecahkan masalah tersebut, solusi itu adalah teknologi yang disebut teknologi garis gawang. Teknologi ini bekerja dengan memasukkan chip yang ditanam di tengah tengah bola dan dihubungkan dengan sensor yang berada di sekitar stadion

BAB II

ISI

                Kontroversi akan gol yang dianulir wasit akibat bola hanya melewati garis gawang sudah lama terjadi. Bahkan pada pertandingan sekelas Piala Dunia dan Liga Champions  pun tidak luput dari kelalaian wasit.   Antara lain gol yang dibuat oleh Frank Lampard pada pertandingan Inggris vs Jerman pada  Piala Dunia 2010


                Pada gambar diatas terlihat jelas bahwa gol tersebut sah, akan tetapi tidak disahkan oleh wasit hingga memberikan kontroversi yang sangat luas di kalangan pecinta sepakbola.

Contoh lain ialah pada laga Bolton kontra QPR, dimana terlihat jelas bahwa bola sudah melewati garis gawang, akan tetapi tidak disahkan oleh wasit.

                Hal tersebut jelas akan berbeda jika teknologi garis gawang diterapkan. 


Teknologi garis gawang bekerja pada prinsip menentukan apakah bola sudah melewati garis gawang atau belum. Adapun komponen penting dalam penerapan teknologi ini, yaitu :
                Bola
                Bola yang digunakan dalam teknologi ini tentu bukan bola sepak biasa, melainkan bola yang telah dimodifikasi. Bentuk bola tersebut memang tidak jauh beda dengan bola pada umumnya. Bentuknya tetap bundar dengan bahan 100 persen polyurethane. Yang tampak berbeda hanya desain luar. Bentuknya tidak lagi terdiri atas bidang-bidang heksagonal dan pentagonal. Namun, garis-garisnya didesain berupa lengkungan-lengkungan yang berbentuk mendekati angka 8. Di dalam bola ini terdapat microchip yang diikat dengan kawat tipis supaya letaknya tetap berada di tengah bola. Microchip dibuat sedemikian rupa agar tidak rusak ketika mengalami guncangan atau tendangan yang keras. Microchip ini bertugas untuk mengirimkan sinyal yang berisi informasi mengenai posisi bola di lapangan. Berat bola mengikuti standard pada umumnya dan tidak dipengaruhi oleh adanya microchip

UNIT PENERIMA


 Unit ini menerima pesan dari komputer pusat dan menentukan apakah goal telah dicetak. Unit ini berbentuk seperti jam tangan yang dipakai oleh hakim garis dan wasit yang bertugas saat pertandingan. Pesan ”goal” yang dikirim dapat berupa pesan visual, audio, atau getaran.
Kabel tipis akan diletakkan di sekeliling area gawang untuk menciptakan medan magnetik. Kabel tersebut berdiameter 2 mm dan ditanam didalam tanah sedalam 15-20 cm. Medan magnetik ini akan membuat microchip dalam bola bereaksi ketika bola melewati garis gawang. Kerja kabel ini tidak akan dipengaruhi oleh perubahan cuaca selama pertandingan berlangsung.





BAB III

 

Cara Kerja 


Goal-line technolgy ini menggunakan sistem RFID (Radio Frequency Identification). Kegunaan dari sistem RFID ini adalah untuk mengirimkan data dari perangkat portable dan kemudian dibaca oleh RFID reader dan kemudian diproses oleh komputer. Pada goal-line technology, RFID terdiri dari microchip yang dipasang di tengah bola dan antena yang terletak di sekeliling lapangan. Selain dipasang di tengah bola, microchip juga dipasang pada kaki pemain. Dengan itu kita dapat mengetahui letak bola dan pemain selama pertandingan
berlangsung. Pengiriman data dapat dilakukan dengan cepat karena menggunakan frekuensi yang tinggi, yaitu 2.4 GHz ISM band. Sistem ini dapat mengukur 100.000 pengukuran tiap detiknya Akurasi berkisar antara satu sampai dua cm, walaupun objek bergerak dengan kecepatan 140 km per jam. Terdapat 6 hingga 10 antena di sekeliling lapangan untuk menentukan posisi secara 3 dimensi. Di sekitar garis gawang dan area penalti terdapat kabel tipis yang dialiri oleh arus listrik, yang kemudian menghasilkan medan magnetik. Ketika bola melewati garis batas gawang, microchip pada bola akan mendapat sinyal dan mengirim pesan ke antena receiver. Terdapat sepasang receiver terletak di belakang gawang, yang berfungsi untuk melanjutkan pesan ke komputer pusat. Pesan yang dikirim oleh microchip juga mengalami enkripsi. Hal ini untuk mencegah pihak luar melakukan modifikasi pada pesan/data yang dikirim. Setelah itu giliran komputer pusat yang mengirimkan pesan ke penangkap sinyal yang berada pada jam tangan wasit. Tentu saja dilengkapi dengan tampilan data mengenai catatan waktu ketika gol itu dicetak. Dengan demikian hasil gol akan tercatat dengan akurat dan tidak lagi menimbulkan kontroversi seperti yang selama ini terjadi. Goal-line technology sendiri sampai sekarang masih terus dikembangkan dan baru diuji pada beberapa pertandingan sepakbola. Diharapkan teknologi ini dapat membantu pertandingan agar dapat berjalan dengan lancar dan adil.

Adapun jenis jenis teknologi garis gawang ada 2, yaitu teknologi GoalRef dan Hawk-Eye.
Kedua teknologi ini akan menjadi bakal teknologi garis gawang yang akan digunakan, adapun cara kerjanya ialah sebagai berikut

GoalRef :
                Bola pada GoalRef yang merupakan teknologi garis gawang buatan Denmark dan Jerman ini dilengkapi dengan teknologi khusus. Bola itu nantinya akan terdeteksi oleh alat elektronik yang terpasang tepat di garis dalam gawang. Prinsip kerja alat ini yaitu menggunakan teori fisika efek Doppler. Bila bola telah melewati garis dalam, maka sensor langsung bekerja. Para pencipta GoalRef ini mengklaim teknologi ini cocok untuk digunakan segala jenis bola.


Sayangnya, banyak kritik yang tetap muncul terhadap GoalRef terutama soal pengaruh teknologi pada kualitas bola yang digunakan. Teknologi ini juga ternyata masih rentan akan kerusakan, terutama elemen elektronik di dalam bola. . Lebih dari itu, sistem GoalRef bisa tidak terdeteksi bila posisi bola tertutup tubuh penjaga gawang.

Teknologi Hawk - Eye


Teknologi yang digunakan pada Hawk-Eye ini berbeda dengan teknologi GoalRef. Hawk-eye diciptakan pertama kali oleh Dr. Paul Hawkins. Hawk-Eye menggunakan pencitraan visual untuk mengamati laju bola di garis gawang. Hawk-Eye yang dicetuskan oleh sebuah perusahaan asal Inggris ini mirip dengan teknologi yang dipakai dalam olahraga tenis.
Alat ini didukung oleh video kamera berkecepatan tinggi yang diletakkan di 6 titik di sekitar lapangan. Tetapi, sistem ini memiliki resiko ketidakakuratan sebesar 3,6 milimeter dari jarak sebenarnya

Hawk-Eye memiliki beberapa kelebihan, seperti :
-Akurat, sistem bisa mengetahui lokasi bola secara akurat.
-Kecepatan dalam mendapatkan hasil, keputusan akan sampai ke wasit dalam waktu kurang dari tiga detik.
-Praktis, tidak perlu banyak campur tangan orang, tidak memerlukan bola yang khusus, tidak perlu instalasi peralatan di sekitar area gawang.

BAB IV

Kontroversi Garis Gawang


                Walaupun dukungan sudah banyak tetapi teknologi ini juga mendapat penolakan dari kaum elite sepakbola. Michel Platini, presiden UEFA menolak penggunaan teknologi garis gawang. Sebab menurutnya penggunaan garis gawang justru akan merusak  dan menghilangkan esensi dari sepakbola itu sendiri.' Skandal dan ketegangan yang terjadi itu lah yang membuat sepakbola menjadi sepakbola'
                Akan tetapi Sepp Blatter, ketua FIFA justru mendukung penerapan teknologi garis gawang tersebut meskipun biaya penerapannya tergolong mahal. "Hal ini untuk mencegah konflik atas terjadinya gol 'hantu', ujar nya.

BAB V

Kesimpulan

                Adapun kesimpulan yang dapat diambil adalah teknologi ini sudah berada dalam tahap penyempurnaan, akan tetapi penerapan nya masih blum terjadi disebabkan biaya yang digunakan tergolong mahal.
                Teknologi garis gawang tercipta akan adanya hubungan antara massa pendukung yang marah serta adanya pihak yang mencari keuntungan dari keputusan wasit yang kontroversial. Semakin banyak nya keputusan wasit yang kontroversial berhubungan erat akan semakin tingginya permintaan akan penerapan teknologi ini secara langsung. Efek psikologis juga sangat berpengaruh, seperti Frank Lampard yang mengaku bahwasanya jika saja gol nya tidak dianulir oleh wasit maka mental Inggris tidak akan jatuh hingga kalah telak 4 - 1 pada pertandingan tersebut. Belum lagi efek lain nya seperti menurun nya tingkat kepercayaan suporter kepada wasit. Jika teknologi ini masih blum diterapkan, maka dikhawatirkan tingkat kepercayaan terhadap wasit serta angka keputusan kontroversial wasit akan semakin tinggi


Daftar Pustaka

https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CDEQFjAA&url=http%3A%2F%2Fid.wikipedia.org%2Fwiki%2FTeknologi_garis_gawang&ei=w0dxUZqxEonkrAef3IC4Dg&usg=AFQjCNFwnlbNeCg9DqNOWhu3FXKsGeh_ag&sig2=TWqIGII7bHlsKUVC_f0DAQ&bvm=bv.45373924,d.bmk

www.thecrowdvoice.com/.../hawk-eye-goalref-5203649.html

Kompas.com/Sepp-Blatter-dukung-penggunaan-teknologi-garis-gawang

Tidak ada komentar:

Posting Komentar